Laman

Selasa, 10 Juni 2014

LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN SAINTIFIK

Langkah langkah Pembelajaran Saintifik 300x158 Langkah langkah Pembelajaran SaintifikProses pembelajaran pada Kurikulum 2013 untuk semua jenjang dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan saintifik. Proses pembelajaran harus menyentuh tiga ranah, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Dalam proses pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah, ranah sikap menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘mengapa’.
Ranah keterampilan  menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘bagaimana’. Ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘apa’.Hasil akhirnya adalah peningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik (soft skills) dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills) dari peserta didik yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan.
Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah. Pendekatan ilmiah (saintifik appoach) dalam pembelajaran semua mata pelajaran meliputi menggali informasi melaui pengamatan, bertanya, percobaan, kemudian mengolah data atau informasi, menyajikan data atau informasi, dilanjutkan dengan menganalisis, menalar, kemudian menyimpulkan, dan mencipta. Untuk mata pelajaran, materi, atau situasi  tertentu, sangat mungkin pendekatan ilmiah ini tidak selalu tepat diaplikasikan secara prosedural. Pada kondisi seperti ini, tentu saja proses pembelajaran harus tetap menerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat ilmiah dan menghindari nilai-nilai atau sifat-sifat nonilmiah.

Langkah-langkah Pembelajaran Saintifik

 Pembelajaran saintifik terdiri atas lima langkah, yaitu Observing (mengamati), Questioning  (menanya), Associating  (menalar),Experimenting (mencoba), Networking (membentuk Jejaring/ mengkomunikasikan), seperti tampak pada gambar berikut.

Langkah-langkah Pembelajaran Saintifik: (1) MENGAMATI

Mengamati mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran (meaningfull learning). Mengamati memiliki keunggulan  tertentu, seperti menyajikan media obyek secara nyata, peserta didik senang dan tertantang, dan mudah pelaksanaannya. Tentu saja kegiatan mengamati dalam rangka pembelajaran ini biasanya memerlukan waktu persiapan yang lama dan matang, biaya dan tenaga relatif banyak, dan jika tidak terkendali akan mengaburkan makna serta tujuan pembelajaran.
Mengamati sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu peserta didik. Sehingga proses pembelajaran memiliki kebermaknaan yang tinggi. Dengan metode observasi peserta didik menemukan fakta bahwa ada hubungan antara obyek yang dianalisis dengan materi pembelajaran yang digunakan oleh guru.
Kegiatan mengamati dalam pembelajaran dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti berikut ini.
  • Menentukan objek apa yang akan diobservasi
  • Membuat pedoman observasi sesuai dengan lingkup objek yang akan diobservasi
  • Menentukan  secara jelas  data-data apa yang perlu diobservasi, baik primer maupun sekunder
  • Menentukan di mana tempat objek yang akan diobservasi
  • Menentukan secara jelas bagaimana observasi akan dilakukan untuk mengumpulkan data agar berjalan mudah dan lancar
  • Menentukan cara dan melakukan pencatatan atas hasil observasi , seperti menggunakan buku catatan, kamera, tape recorder, video perekam, dan alat-alat tulis lainnya.
Kegiatan observasi  dalam proses pembelajaran meniscayakan keterlibatan peserta didik secara langsung. Dalam kaitan ini, guru harus memahami bentuk keterlibatan peserta didik dalam observasi tersebut.
  • Observasi biasa (common observation). Pada observasi biasa untuk kepentingan pembelajaran, peserta didik merupakan subjek yang sepenuhnya melakukan observasi (complete observer). Di sini peserta didik sama sekali tidak melibatkan diri dengan pelaku, objek, atau situasi yang diamati.
  • Observasi terkendali (controlled observation).  Seperti halnya observasi biasa, pada observasi terkendali untuk kepentingan pembelajaran, peserta didik sama sekali tidak melibatkan diri dengan pelaku, objek, atau situasi yang diamati. Mereka juga tidak memiliki hubungan apa pun dengan pelaku, objek, atau situasi yang diamati. Namun demikian, berbeda dengan observasi biasa, pada observasi terkendali pelaku atau objek  yang diamati ditempatkan pada ruang atau situasi yang dikhususkan. Karena itu, pada pembelajaran dengan observasi terkendali termuat nilai-nilai percobaan atau eksperimen  atas diri pelaku atau objek yang diobservasi.
  • Observasi partisipatif (participant observation). Pada observasi partisipatif, peserta didik melibatkan diri secara langsung dengan pelaku atau objek yang diamati. Sejatinya, observasi semacam ini paling lazim dilakukan dalam penelitian antropologi khususnya etnografi. Observasi semacam ini mengharuskan peserta didik melibatkan diri pada pelaku, komunitas, atau objek yang diamati. Di bidang pengajaran bahasa, misalnya, dengan menggunakan pendekatan ini berarti peserta didik hadir dan “bermukim” langsung di tempat subjek atau komunitas tertentu dan pada waktu tertentu pula untuk  mempelajari bahasa atau dialek setempat, termasuk melibatkan diri secara langsung dalam situasi kehidupan mereka.
Selama proses pembelajaran, peserta didik dapat melakukan observasi dengan dua cara pelibatan diri. Kedua cara pelibatan dimaksud  yaitu observasi berstruktur dan observasi tidak berstruktur, seperti dijelaskan berikut ini.
  • Observasi berstruktur.  Pada observasi berstruktur dalam rangka proses pembelajaran, fenomena subjek, objek, atau situasi apa yang ingin diobservasi oleh peserta didik telah direncanakan oleh secara sistematis di bawah bimbingan guru.
  • Observasi tidak berstruktur. Pada observasi yang tidak berstruktur dalam rangka proses pembelajaran, tidak ditentukan secara baku atau rijid mengenai apa yang harus diobservasi oleh peserta didik. Dalam kerangka ini, peserta didik membuat catatan, rekaman, atau mengingat dalam memori secara spontan atas subjek, objektif, atau situasi yang diobservasi.
Praktik observasi dalam pembelajaran hanya akan efektif jika peserta didik dan guru melengkapi diri dengan dengan alat-alat pencatatan dan alat-alat lain, seperti: (1) tape recorder, untuk merekam pembicaraan; (1) kamera, untuk merekam objek atau kegiatan secara visual; (2) film atau video, untuk merekam kegiatan objek atau secara audio-visual; dan (3) alat-alat lain sesuai dengan keperluan.
Secara lebih luas, alat atau instrumen yang digunakan dalam melakukan observasi, dapat berupa daftar cek (checklist), skala rentang (rating scale), catatan anekdotal (anecdotal record), catatan berkala, dan alat mekanikal (mechanical device). Daftar cek dapat berupa suatu daftar yang berisikan nama-nama subjek, objek, atau faktor- faktor yang akan diobservasi. Skala rentang , berupa alat untuk mencatat gejala atau fenomena menurut tingkatannya. Catatan anekdotal berupa catatan yang dibuat oleh peserta didik dan guru mengenai kelakuan-kelakuan luar biasa yang ditampilkan oleh subjek atau objek yang diobservasi.  Alat mekanikal berupa alat mekanik yang dapat dipakai untuk memotret atau merekam peristiwa-peristiwa tertentu yang ditampilkan oleh subjek atau objek yang diobservasi.
Prinsip-rinsip yang harus diperhatikan oleh guru dan peserta didik selama observasi pembelajaran disajikan berikut ini.
  • Cermat, objektif, dan jujur serta terfokus pada objek yang diobservasi untuk kepentingan pembelajaran.
  • Banyak atau sedikit serta homogenitas atau hiterogenitas subjek, objek, atau situasi yang diobservasi. Makin banyak dan hiterogen subjek, objek, atau situasi yang diobservasi, makin sulit kegiatan obervasi itu  dilakukan. Sebelum observasi dilaksanakan, guru dan peserta didik sebaiknya menentukan dan menyepakati cara dan prosedur pengamatan.
  • Guru dan peserta didik perlu memahami apa yang hendak dicatat, direkam, dan sejenisnya,  serta bagaimana membuat catatan atas perolehan observasi.

Langkah-langkah Pembelajaran Saintifik: (2) MENANYA

Guru yang efektif mampu menginspirasi peserta didik untuk meningkatkan dan mengembangkan ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuannya. Pada saat guru bertanya, pada saat itu pula dia membimbing atau memandu peserta didiknya belajar dengan baik. Ketika guru menjawab pertanyaan peserta didiknya, ketika itu pula dia mendorong asuhannya itu untuk menjadi penyimak dan pembelajar yang baik.
Berbeda dengan penugasan yang menginginkan tindakan nyara, pertanyaan dimaksudkan untuk memperoleh tanggapan verbal. Istilah “pertanyaan” tidak selalu dalam bentuk “kalimat tanya”, melainkan juga dapat dalam bentuk pernyataan, asalkan keduanya menginginkan tanggapan verbal.
Fungsi Bertanya: (1)Membangkitkan rasa ingin tahu, minat, dan perhatian  peserta didik tentang suatu tema atau topik pembelajaran; (2) Mendorong dan menginspirasi peserta didik untuk aktif belajar, serta mengembangkan pertanyaan dari dan untuk dirinya sendiri; (3) Mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik sekaligus menyampaikan ancangan untuk mencari solusinya; (4) Menstrukturkan tugas-tugas dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan sikap, keterampilan, dan pemahamannya atas substansi pembelajaran yang diberikan; (5) Membangkitkan keterampilan peserta didik dalam berbicara, mengajukan pertanyaan, dan memberi jawaban secara logis, sistematis, dan menggunakan bahasa yang baik dan benar; (6) Mendorong partisipasipeserta didik dalam berdiskusi, berargumen, mengembangkan kemampuan berpikir,  dan menarik  simpulan; (7) Membangun sikap keterbukaan untuk saling memberi dan menerima pendapat atau gagasan, memperkaya kosa kata, serta mengembangkan toleransi sosial dalam hidup berkelompok; (8) Membiasakan peserta didik berpikir spontan dan cepat, serta sigap dalam merespon persoalan yang tiba-tiba muncul; dan (9) Melatih kesantunan dalam berbicara dan membangkitkan kemampuan berempati satu sama lain.
Kriteria Pertanyaan yang Baik: (1) Singkat dan jelas; (2) Menginspirasi jawaban; (3) Memiliki fokus; (4) Bersifat probing atau divergen; (5) Bersifat validatif atau penguatan; (6) Memberi kesempatan peserta didik untuk berpikir ulang; (7) Merangsang peningkatan tuntutan kemampuan kognitif; (8) Merangsang proses interaksi.

Langkah-langkah Pembelajaran Saintifik: (3) MENALAR

Istilah “menalar” dalam kerangka proses pembelajaran dengan pendekatan ilmiah yang dianut dalam Kurikulum 2013 untuk menggambarkan bahwa guru dan peserta didik merupakan pelaku aktif. Titik tekannya tentu dalam banyak hal dan situasi peserta didik harus lebih aktif daripada guru. Penalaran adalah proses berfikir yang logis dan sistematis atas fakta-kata empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan.
Penalaran dimaksud merupakan penalaran ilmiah, meski penakaran nonilmiah tidak selalu tidak bermanfaat. Istilah menalar di sini merupakan padanan dari associating; bukan merupakan terjemanan dari reasonsing, meski istilah ini juga bermakna menalar atau penalaran. Karena itu, istilah aktivitas menalar dalam konteks pembelajaran pada Kurikulum 2013 dengan pendekatan ilmiah banyak merujuk pada teori belajar asosiasi atau pembelajaran asosiatif. Istilah asosiasi dalam pembelajaran merujuk pada kemamuan mengelompokkan beragam ide dan mengasosiasikan beragam peristiwa untuk kemudian memasukannya menjadi penggalan memori.
Selama mentransfer peristiwa-peristiwa khusus ke otak, pengalaman tersimpan dalam referensi dengan peristiwa lain. Pengalaman-pengalaman yang sudah tersimpan di memori otak berelasi dan berinteraksi dengan pengalaman sebelumnya yang sudah tersedia. Proses itu dikenal sebagai asosiasi atau menalar. Dari persepektif psikologi, asosiasi merujuk pada koneksi antara entitas konseptual atau mental sebagai hasil dari kesamaan  antara pikiran atau kedekatan dalam ruang dan waktu.
Menurut teori asosiasi, proses pembelajaran akan berhasil secara efektif jika terjadi interaksi langsung antara pendidik dengan peserta didik. Pola ineraksi itu dilakukan melalui stimulus dan respons (S-R).  Teori ini dikembangan kerdasarkan hasil eksperimen Thorndike, yang kemudian dikenal dengan teori asosiasi. Jadi, prinsip dasar proses pembelajaran yang dianut oleh Thorndike adalah asosiasi, yang juga dikenal dengan teori Stimulus-Respon (S-R). Menurut Thorndike, proses pembelajaran, lebih khusus lagi proses belajar peserta didik terjadi secara perlahan atau inkremental/bertahap, bukan secara tiba-tiba. Thorndike mengemukakan berapa hukum dalam proses pembelajaran.
  • Hukum efek (The Law of Effect), di mana intensitas hubungan antara stimulus (S) dan respon (R) selama proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh konsekuensi dari hubungan yang terjadi. Jika akibat dari hubungan S-R itu dirasa menyenangkan, maka perilaku peserta didik akan mengalami penguatan. Sebaliknya, jika akibat hubungan S-R dirasa tidak menyenangkan, maka perilaku peserta didik akan melemah. Menurut Thorndike, efek dari reward (akibat yang menyenangkan) jauh lebih besar dalam memperkuat perilaku peserta didik dibandingkan efek punishment (akibat yang tidak menyenangkan) dalam memperlemah perilakunya. Ini bermakna bahwa reward akan meningkatkan perilaku peserta didik, tetapi punishment belum tentu akan mengurangi atau menghilangkan perilakunya.
  • Hukum latihan (The Law of Exercise). Awalnya, hukum ini terdiri dari duajenis, yang setelah tahun 1930 dinyatakan dicabut oleh Thorndike. Karena dia menyadari bahwa latihan saja tidak dapat memperkuat atau membentuk perilaku. Pertama, Law of Use yaitu hubungan antara S-R akan semakin kuat jika sering digunakan atau berulang-ulang. Kedua, Law of Disuse, yaitu hubungan antara S-R akan semakin melemah jika tidak dilatih atau dilakukan berulang-ulang.Menurut Thorndike, perilaku dapat dibentuk dengan menggunakan penguatan (reinforcement). Memang, latihan berulang tetap dapat diberikan, tetapi yang terpenting adalah individu menyadari konsekuensi perilakunya.
  • Hukum kesiapan (The Law of Readiness). Menurut Thorndike, pada prinsipnya apakah sesuatu itu akan menyenangkan atau tidak menyenangkan untuk dipelajari tergantung pada kesiapan belajar individunya. Dalam proses pembelajaran, hal ini bermakna bahwa jika peserta dalam keadaan siap dan belajar dilakukan, maka mereka akan merasa puas. Sebaliknya, jika pesert didik dalam keadaan tidak siap dan belajar terpaksa dilakukan, maka mereka akan merasa tidak puas bahkan mengalami frustrasi.
    Prinsip-prinsip dasar dari Thorndike kemudian diperluas oleh B.F. Skinner dalam Operant Conditioning atau pelaziman/pengkondisian operan. Pelaziman operan adalah bentuk pembelajaran dimana konsekuensi-konsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas perilaku itu akan diulangi.  Merujuk pada teori S-R, proses pembelajaran akan makin efektif jika peserta didik makin giat belajar. Dengan begitu, berarti makin tinggi pula kemampuannya dalam menghubungkan S dengan R.

Langkah-langkah Pembelajaran Saintifik: (4) MENCOBA

Untuk memperoleh hasil belajar yang nyata atau otentik, peserta didik harus mencoba atau melakukan percobaan, terutama untuk materi atau substansi yang sesuai. Pada mata pelajaran IPA, misalnya,peserta didik harus memahami konsep-konsep IPA dan kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Peserta didik pun harus memiliki keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan tentang alam sekitar, serta mampu menggunakan metode ilmiah dan bersikap ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari.
Aplikasi metode eksperimen atau mencoba dimaksudkan untuk mengembangkan berbagai ranah tujuan belajar, yaitu sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Aktivitas pembelajaran yang nyata untuk ini adalah: (1) menentukan tema atau topik sesuai dengan kompetensi dasar menurut tuntutan kurikulum; (2) mempelajari cara-cara penggunaan alat dan bahan yang tersedia dan harus disediakan; (3)mempelajari dasar teoritis yang relevan dan hasil-hasil eksperimen sebelumnya; (4) melakukan dan mengamati percobaan; (5) mencatat fenomena yang terjadi, menganalisis, dan menyajikan data;(6) menarik simpulan atas hasil percobaan; dan (7)membuat laporan dan mengkomunikasikan hasil percobaan.
Agar pelaksanaan percobaan dapat berjalan lancar maka: (1) Guru hendaknya merumuskan tujuan eksperimen yanga akan dilaksanakan murid (2) Guru bersama murid mempersiapkan perlengkapan yang dipergunakan (3) Perlu memperhitungkan tempat dan waktu (4) Guru menyediakan kertas kerja untuk pengarahan kegiatan murid (5) Guru membicarakan masalah yanga akan yang akan dijadikan eksperimen (6) Membagi kertas kerja kepada murid (7) Murid melaksanakan eksperimen dengan bimbingan guru, dan (8) Guru mengumpulkan hasil kerja murid dan mengevaluasinya, bila dianggap perlu didiskusikan secara klasikal.

Langkah-langkah Pembelajaran Saintifik: (5) JEJARING

Jejaring Pembelajaran disebut juga Pembelajaran Kolaboratif.  Apa yang dimaksud dengan pembelajaran kolaboratif? Pembelajaran kolaboratif merupakan suatu filsafat personal, lebih dari sekadar sekadar teknik pembelajaran di kelas-kelas sekolah. Kolaborasi esensinya merupakan filsafat interaksi dan gaya hidup manusia yang menempatkan dan memaknai kerjasama sebagai struktur interaksi yang dirancang secara baik dan disengaja rupa untuk memudahkan usaha kolektif dalam rangka mencapai tujuan bersama.
Pada pembelajaran kolaboratif kewenangan guru fungsi guru lebih bersifat direktif atau manajer belajar, sebaliknya, peserta didiklah yang harus lebih aktif. Jika  pembelajaran kolaboratif diposisikan sebagai satu falsafah peribadi, maka ia menyentuh tentang identitas peserta didik terutama jika mereka berhubungan atau berinteraksi dengan yang lain atau guru. Dalam situasi kolaboratif itu, peserta didik berinteraksi dengan empati, saling menghormati, dan menerima kekurangan atau kelebihan masing-masing. Dengan cara semacam ini akan tumbuh rasa aman, sehingga memungkin peserta didik menghadapi aneka perubahan dan tntutan belajar secara bersama-sama.
Ada empat sifat kelas atau pembelajaran kolaboratif.  Dua sifat berkenaan dengan perubahan hubungan antara guru dan peserta didik. Sifat ketiga berkaitan dengan pendekatan baru dari penyampaian guru selama proses pembelajaran. Sifat keempat menyatakan isi kelas atau pembelajaran kolaboratif.
  • Guru dan peserta didik saling berbagi informasi. Dengan pembelajaran kolaboratif,  peserta didik memiliki ruang gerak untuk menilai  dan membina ilmu pengetahuan, pengalaman personal, bahasa komunikasi, strategi dan konsep pembelajaran sesuai dengan teori, serta menautkan kondisi sosiobudaya dengan situasi pembelajaran. Di sini, peran guru lebih banyak sebagai pembimbing dan manajer belajar ketimbang memberi instruksi dan mengawasi secara rijid.
  • Berbagi tugas dan kewenangan. Pada pembelajaran atau kelas kolaboratif, guru berbagi tugas dan kewenangan dengan peserta didik, khususnya untuk hal-hal tertentu. Cara ini memungkinan peserta didik menimba pengalaman mereka sendiri,  berbagi strategi dan informasi, menghormati antarsesa, mendoorong tumbuhnya ide-ide cerdas, terlibat dalam pemikiran kreatif dan kritis serta memupuk dan menggalakkan mereka mengambil peran secara terbuka dan bermakna.
  • Guru sebagai mediator.  Pada pembelajaran atau kelas kolaboratif, guru berperan sebagai mediator atau perantara. Guru berperan membantu menghubungkan informasi  baru dengan pengalaman yang ada serta membantu peserta didik jika mereka mengalami kebutuan dan bersedia menunjukkan cara bagaimana mereka memiliki kesungguhan untuk belajar.
  • Kelompok peserta didik yang heterogen. Sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didk yang tumbuh dan berkembang sangat penting untuk memperkaya pembelajaran di kelas.  Pada kelas kolaboratif peserta didikdapat menunjukkan kemampuan dan keterampilan mereka, berbagi informasi,serta mendengar atau membahas sumbangan informasi dari peserta didik lainnya. Dengan cara seperti ini akan muncul “keseragaman” di dalam heterogenitas peserta didik.

MENGAWAL IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013

Dengan selalu mengharapkan Ridho Allah swt, pada hari yang baik ini, 15 Juli 2013, Peluncuran Pelaksanaan Kurikulum 2013 secara resmi dilakukan oleh Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh, DEA, di SMA Negeri 1 Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dalam konteks tempat, suatu kehormatan tersendiri bagi masyarakat pendidikan DIY, karena DIY menjadi tempat bersejarah untuk implementasi Kurikulum 2013 yang berlaku secara nasional. Hingga kini, Kurikulum 2013 masih terus menjadi perdebatan luas, antara yang pro dan kontra.
Fenomena pro dan kontra secara terbuka atau sembunyi-sembunyi di era demokrasi ini tidak bisa dihindari. Kita sangat menyadari bahwa pada hakekatnya tidak ada di dunia ini yang sempurna termasuk Kurikulum 2013, kecuali kebenaran milik Allah swt. Karena itu yang penting kita selalu berusaha mencari solusi yang dijumpai di balik kebijakan Kurikulun 2013 tersebut.
Dalam konteks waktu, kita bersyukur bahwa peluncuran pelaksanaan Kurikulum 2013 bertepatan dengan Ramadan 1434 H. Bulan Ramadan sarat dengan keutamaan, terutama saat turunnya wahyu pertama dari Allah swt yang menandai kerasulan Muhammad. Mudah-mudah peristiwa ini memberikan spirit dalam meningkatkan kualitas pendidikan melalui implementasi Kurikulum 2013 yang terutama membawa misi pembinaan karakter dan kreativitas untuk menghadapi tantangan masa depan.
Posisi Pemerintah
Dengan penuh rasa tanggung jawab, Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI menetapkan kebijakannya bahwa Kurikulum baru untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah, dinamai Kurikulum 2013. Penentuan pelaksanaan peluncuran Kurikulum 2013 hari ini sangatlah terkait dengan awal penyelenggaraan pendidikan Tahun Ajaran 2013-2014. Munculnya sikap kritis dan kontra dari seluruh lapisan masyarakat perlu diapresiasi oleh Pemerintah, sehingga dapat menjadi feedback untuk penyempurnaan kebijakan pendidikan nasional berkenaan dengan pengembangan kurikulum.
Wujud tanggung jawab Pemerintah dapat dilihat pada kesungguhan Pemerintah dalam menyiapkan dan mematangkan konsep kurikulum, mengembangkan silabus, menyiapkan (menulis dan mencetak) dan mendistribusikan buku teks atau bahan ajar baik berkenaan dengan buku peserta didik maupun buku pegangan guru, menyiapkan nara sumber untuk semua level, dan menentukan jumlah, memilih dan menatar guru, kepala sekolah dan pengawas target. Di samping itu upaya penting yang dilakukan oleh pemerintah, yaitu membangun dan menjaga jaringan dan kerja sama yang sinergis dengan semua stakeholder, terutama dinas pendidikan, Lembaga Pendidikan Tinggi Kependidikan (LPTK), dan organisasi profesi, serta yayasan penyelenggara pendidikan, sehingga dapat memperlancar proses implementasi kurikulum.
Untuk menuntaskan implementasi kurikulum 2013, pemerintah terus berkewajiban mengawal implementasi kurikulum secara tuntas, melanjutkan penulisan, pengadaan dan pendistribusian buku kelas atasnya, dengan dukungan pemerintah daerah dan masyarakat, di samping melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kurikulum 2013 di lapangan dan selalu terbuka terhadap feedback dari semua kalangan. Pengembang Kurikulum Pengembang kurikulum dimaksudkan di sini adalah pengembang dokumen kurikulum 2013, yang pada hakekatnya bertanggung jawab dalam membangun rasionale kurikulum, tujuan, dan struktur kurikulum serta juga mengembangkan silabus.
Di samping itu pengembang kurikulum harus mengawal penulisan buku teks dan buku penunjang, serta sub sistem pendidikan dan pembelajaran lainnya. Demikian juga pengembang kurikulum 2013 bertanggung jawab untuk diseminasi kurikulum hingga sampai target ujung tombak di sekolah, sehingga terbangun common vision. Dengan begitu diharapkan kita bisa terhindar dari distorsi dan pembiasan implementasi kurikulum, sehingga pelaksanan praktek pendidikan dan pembelajaran di kelas tetap terkendali. Dalam posisi ini pengembang kurikulum memainkan peran sebagai pengarah dan mediator implementasi kurikulum, di samping pengembang kurikulum yang mengetahui benar roh dan spirit kurikulum 2013.
Peran Guru dan LPTK
Guru pada hakekatnya memiliki peran yang sangat strategis dalam mengawal implementasi kurikulum di lapangan. Berdasarkan hasil banyak penelitian, guru memiliki sumbangan yang terbesar secara signifikan dalam implementasi kurikulum. Hal ini dibuktikan bahwa selama ini dokumen kurikulum secara nasional sama, namun pada prakteknya ada sekolah yang masuk katagori unggul, rata-rata, dan rendah. Diferensiasi katagori ini sangat diyakini berkaitan erat dengan kualitas kinerja guru dan kepemimpinan kepala sekolah.
Menyadari akan pentingnya posisi guru dan kepala sekolah, maka kerapihan diseminasi kurikulum terhadap guru dan kepala sekolah perlu diupayakan secara optimal. Untuk menjamin guru tetap terjaga komitmennya dalam memainkan perannya sebagai pengembang kurikulum di kelas (curriculum developer in the classroom), kiranya guru perlu dilindungi keamanannya untuk dapat memberikan keteladanan akhlaq yang mulia dan budi pekerti, menciptakan inovasi dan mengembangkan kreativitasnya, di samping diberikan insentif yang memadai. Demikian pula untuk menjamin kepala sekolah dapat menegakkan kepemimpinan akademiknya, perlu dilindungi posisinya, sehingga mereka memiliki keberanian membuat keputusan yang visioner.
Selanjutnya, dalam mengawal implementasi kurikulum baik pada tataran pengembangan dokumen kurikulum, maupun pelaksanaan di sekolah, LPTK juga memainkan peran yang sangat strategis. Bahkan lebih jauh dari itu, LPTK dapat mengambil bagian dalam mengawal evaluasi kurikulum, sehingga kurikulum tetap terjaga relevansinya. Demikian juga, LPTK hendaknya selalu dapat memainkan peran penting sebagai katalisator dalam menjamin implementasi kurikulum yang kontekstual.
Akhirnya dengan menyadari kompleksitas persoalan pendidikan, terutama kurikulum untuk pendidikan dasar dan menengah yang tidak pernah berakhir, bahkan disinyalir akan semakin menantang di kemudian hari. Hal ini minimal ditunjukkan dengan masih terbatasnya jumlah buku teks untuk SMA, dan belum diluncurkannya buku teks untuk SMK yang sangat beragam konsentrasinya. Untuk itu pengawalan pelaksanaan implementasi Kurikulum 2013, tidak hanya menjamin mekanisme implementasinya, melainkan juga dampaknya terhadap kualitas lulusan. Dengan pengawalan yang baik di semua aspek, diharapkan sekali Kurikulum 2013 menjadi solusi untuk menghasilkan generasi masa depan yang lebih baik.
***
Penulis: Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A., Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

ANALISIS KRITIS KEBIJAKAN KURIKULUM 2013

Rencana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menerapkan secara keseluruhan kurikulum 2013 pada tahun ajaran 2014/2015 sebagai pengganti kurikulum sebelumnya yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) atau yang lebih dikenal dengan kurikulum 2006 menjadi isu yang popular di diskusikan oleh kalangan akademisi pendidikan sampai hari ini. Dari diskusi ringan sampai ke forum-forum besar seperti seminar, banyak praktisi dari kalangan pendidikan mengutarakan pro dan kontra terhadap kebijakan penerapan kurikulum 2013 ini. Sikap kontra ini diakibatkan oleh implementasi kurikulum yang tergesa-gesa dan terkesan dipaksakan demi pencitraan rezim yang berkuasa, sedangkan di satu sisi banyak yang harus dipersiapkan untuk menunjang implementasi kurikulum 2013 ini.

Sejarah perkembangan kurikulum di Indonesia terjadi setiap pergantian rezim pemerintahan mulai dari kurikulum 1947 sampai pada kurikulum 2013 ini (Lihat dokumen uji public kurikulum 2013). Menurut penulis tidak masalah ketika suatu kurikulum terjadi perubahan demi memperbaiki pengajaran dan kualitas pendidikan di Indonesia, tetapi hal ini  berjalan sebagai dalih mengingat anggaran uji publik yang bersumber dari APBN suatu kurikulum mencapai triliyunan, jelas didalamnya ada muatan politis. UU nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional (Sisdiknas) mengatakan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu.
Masih menurut hemat penulis, kita harus mendukung sebuah perubahan baik itu kurikulum atau apapun dan sejatinya kita harus menyadari bahwa kurikulum selalu memerlukan pengembangan baru sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat Indonesia. Justru suatu kurikulum akan tidak relevan lagi jikalau masyarakat berkembang begitu cepat sementara kurikulum masih berkutat pada masa lalu. Sejalan dengan itu, tujuan tulisan articel ini adalah salah satu bagian dari semangat merespon perubahan serta memberikan kritik yang membangun terhadap pihak kemendikbud atas rencana pergantian kurikulum tersebut agar supaya dalam penerapannya berjalan sesuai yang diharapkan termasuk di dalamnya mengungkapkan beberapa fakta dan kekurangan dalam implementasi kurikulum 2013 ini.
Fakta Empirik Masalah Pelaksanaan Kurikulum 2013
Sekolah-sekolah belum sempat melengkapi, mengembangakan perangkat pembelajaran untuk kurikulum 2006 berupa media pembelajaran, instrument penilaian kognitif, afektif dan psikomotorik, kementrian pendidikan dan kebudayaan yang di pimpin oleh Prof. Muhammad Nuh dengan kekuasaan dan wewenangnya merubah kurikulum KTSP atau kurikulum 2006 ke kurikulum 2013. Guru-guru di daerah belum mengetahui dan menguasai isi dari kurikulum 2013 ini, mereka hanya mengetahui adanya perubahan kurikulum. Untuk mengatasi masalah yang fundamental ini Kemendikbud harus berkerja ekstra keras untuk sosialisasi dan memberikan pemahaman kepada guru-guru terutama yang berada di daerah terpencil.
Dalam uji publik pelaksanaan kurikulum 2013 masih dikatakan belum siap dilaksanakan pada tahun ajaran 2014/2015 dan masih tersandung oleh berbagai macam problem yang mendasar dilapangan yaitu guru kesulitan membuat dan mengembangkan instrument penilaian pembelajaran yang memuat 4 (empat) muatan Kompetensi Inti (Aspek Spritual, Aspek Sikap Sosial, Aspek Pengetahuan/kognitif dan Aspek keterampilan/psikomotorik) hal ini diakibatkan oleh pihak pembuat kurikulum yaitu kemendikbud hanya mengeluarkan instrument penilaian mentah untuk semua pembelajaran secara umum, sementara itu guru dengan sendiri-sendiri mengembangkan 4 (empat) kompetensi inti tersebut sesuai kondisi pembelajaran di sekolah masing-masing. Fakta ini menjadi sebuah momok bagi sekolah dan akan berakibat diluar konteksnya interpretasi penilaian oleh guru terhadap 4 kompetensi inti tersebut, sehingga mengakibatkan penilaian terhadap prestasi belajar siswa tidak tepat dan akurat sesuai tujuan pembelajaran. Bagi siswa, secara psikologis merupakan beban untuk mempersiapkan materi belajar dengan energi yang begitu ekstra untuk mengimbangi cara belajarnya oleh karena banyaknya kompetensi yang harus diserap dalam waktu dekat. Untuk mengatasi persoalan ini Kemendikbud harus focus membenahi kemampuan kompetensi guru karena tingkat kecerdasan siswa berbeda-beda agar supaya kurikulum 2013 ini berjalan dengan sukses.
Dalam merancang sekaligus membuat kurikulum baru, dalam hal ini kurikulum 2013 Kemendikbud harus mengacu dan berpedoman pada regulasi atau landasan hokum pendidikan yang berlaku. Karena pada pasal 36 UU Sisdiknas nomor 20 tahun 2003 dengan nyata menyebutkan bahwa pengembangan kurikulum harus mengacu pada Standar Nasional Pendidikan (SPN) untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, akan tetapi hal tersebut pihak kemendikbud tidak dilakukan padahal itu adalah landasan yuridis pendidikan yang masih berlaku sampai sekarang. Sementara itu disisi lain peraturan nomor 17 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang disebut kurikulum adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) atau kurikulum 2006 bukan kurikulum 2013. Berdasarkan fakta tersebut secara landasan hokum pendidikan, kurikulum 2013 inkonstitusional dan cacat hokum.
Kurikulum 2013 antara mencetak peserta didik yang goblok tekhnologi atau berbudaya
Ditengah perkembangan dan kemajuan informasi dan tekhnologi dunia, pembelajaran abad 21 pun mengarah ke literacy informasi yang mempersyaratkan untuk berbasis ICT/TIK. Pembelajaran berbasis tekhnologi informasi dan komunikasi sebagai sebuah mata pelajaran di SD, SMP dan SMA mengharuskan kepada peserta didik atau siswa untuk melek tekhnologi termuktahir termasuk di dalamnya bagaimana mengoperasikan office word, membuka internet, pembelajaran jarak jauh dan lain sebagainya. Tetapi hal ini di dalam kurikulum 2013 telah di tiadakan dan tidak akan ada dalam struktur mata pelajaran di sekolah kedepannya. Mata pelajaran TIK telah di integrasikan dalam keseluruhan mata pelajaran, sehingga menimbulkan pro dan kontra terhadap nasib guru TIK. Kalau Kemendikbud beralasan meniadakan TIK sebagai mata pelajaran bahwa anak TK/SD pun sudah bisa berinternetan, lalu pertanyaannya bagaimana memanfaatkan dan etika penggunaan TIK dengan baik dan benar?. Jelas pertanyaan tersebut akan terjawab manakala TIK di jadikan sebagai sebuah mata pelajaran di sekolah. Menurut hemat saya TIK sebagai alat bantu guru mengajar dan TIK sebagai sebuah mata pelajaran adalah sebuah hal yang sangat berbeda, untuk itu TIK sangat penting di jadikan sebagai sebuah mata pelajaran di sekolah. Berbeda dengan TIK mata pelajaran Budaya dan seni di perbanyak jam pelajarannya disekolah, hal ini tidak sesuai dengan alasan Kemendikbud mengembangkan kurikulum pada aspek kompetensi kedepan yaitu kemampuan hidup dalam masyarakat mengglobal.

Minggu, 13 April 2014



PERHITUNGAN KRITERIA KETUNTASAN MINIMUM


             Nama Sekolah                   :     MIS Sakita                                       Kelas/semester                 :                                           I  (satu) / 1 (satu)
             Mata Pelajaran                   :     Pendidikan Jasmani  Olahraga dan Kesehatan             Tahun Pelajaran                :     2013/ 2014

STANDAR KOMPETENSI
KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR
KRITERIA
PENENTUAN KKM
KKM dalam Aspek
KKM %
Kompleksitas
Daya Dukung
Intake siswa
Permainan & Olahraga
Pengembangan
Uji diri/ Senam
Ritmik
Akuatik
1.        Mempraktikkan gerak dasar ke dalam permainan sederhana/ aktivitas jasmani dan nilai yang terkandung di dalamnya









1.1     Mempraktikkan gerak dasar jalan, lari dan lompat dalam permainan sederhana, serta nilai sportivitas, kejujuran, kerjasama, toleransi dan percaya diri
o    Melakukan gerak dasar lokomotor









1.2     Mempraktikkan gerak dasar memutar, mengayun ataupun menekuk dalam permainan sederhana, serta nilai sportivitas, kejujuran, kerjasama, toleransi dan percaya diri
o    Melakukan gerak dasar non lokomotor












1.3     Mempraktikkan gerak dasar lempar tangkap dan sejenisnya dalam permainan sederhana, serta nilai sportivitas, kejujuran, kerjasama, toleransi dan percaya diri
o    Melakukan gerak dasar manipulatif









 RATA-RATA


 RATA-RATA KESELURUHAN


STANDAR KOMPETENSI
KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR
KRITERIA PENENTUAN KKM
KKM dalam Aspek
KKM %
Kompleksitas
Daya Dukung
Intake siswa
Permainan & Olahraga
Pengembangan
Uji diri / Senam
Ritmik
Akuatik
2.          Mendemonstrasikan sikap tubuh dalam berbagai posisi









2.1       Mendemonstrasikan sikap tubuh dalam posisi berdiri
o    Berdiri dengan sikap posisi tubuh yang benar









2.2  Mendemonstrasikan sikap tubuh dalam posisi berjalan
o    Melangkah ke berbagai arah









 RATA-RATA


 RATA-RATA KESELURUHAN


STANDAR KOMPETENSI
KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR
KRITERIA PENENTUAN KKM
KKM dalam Aspek
KKM%
Kompleksitas
Daya Dukung
Intake siswa
Permainan & Olahraga
Pengembangan
Uji diri / Senam
Ritmik
Akuatik
3.                Mempraktikkan senam lantai sederhana tanpa alat dan nilai yang terkandung di dalamnya









3.1             Mempraktikkan gerak keseimbangan statis tanpa alat, serta nilai percaya diri dan disiplin
o    Melakukan lompat









3.2             Mempraktikkan gerak keseim-bangan dinamis tanpa alat, serta nilai percaya diri dan disiplin
o    Berjalan di atas garis lurus
o    Berjalan lurus dengan mata ditutup
o    Melompat dengan satu kaki









 RATA-RATA









 RATA-RATA KESELURUHAN











STANDAR KOMPETENSI
KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR
KRITERIA PENENTUAN KKM
KKM dalam Aspek
KKM %
Kompleksitas
Daya Dukung
Intake Siswa
Permainan & Olahraga
Pengembangan
Uji diri / Senam
Ritmik
Akuatik
4.          Mengungkapkan perasaan melalui gerak berirama dan nilai yang terkandung di dalamnya









4.1       Mempraktikkan gerak bebas berirama tanpa menggunakan musik dan nilai disiplin dan kerjasama









o    Menirukan gerakan binatang dan gerakan pohon ditiup angin









4.2       Mempraktikkan gerak bebas berirama menggunakan musik dan nilai disiplin dan kerjasama









o    Bergerak bebas mengikuti irama
o    Bergerak bebas berirama
o    Melakukan kombinasi gerak langkah kaki dan lengan berirama
o    Melakukan kombinasi gerak langkah kaki dan lengan dengan diiringi musik










 RATA-RATA









 RATA-RATA KESELURUHAN











STANDAR KOMPETENSI
KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR
KRITERIA PENENTUAN KKM
KKM dalam Aspek
KKM
%
Kompleksitas
Daya Dukung
Intake siswa
Permainan & Olahraga
Pengembangan
Uji diri/ Senam
Ritmik
Akuatik
5.          Menerapkan budaya hidup sehat









5.1 Menjaga kebersihan diri yang meliputi kuku dan kulit
-         Mengenal alat kebersihan Pribadi









5.2   Mengenal pentingnya imunisasi
-         Mengerti pentingnya imunisasi bagi kesehatan









 RATA-RATA









 RATA-RATA KESELURUHAN












Mengetahui,
Kepala Sekolah



RUSLI BACO, S.Pd.I
NIP: 198301052005011003


Guru Bidang Study



DARLIN SAHIBU
           NIP:







PERHITUNGAN KRITERIA KETUNTASAN MINIMUM


             Nama Sekolah                   :     MIS Sakita                                       Kelas/semester                 :                                           I  (satu) / 2 (Dua)
             Mata Pelajaran                   :     Pendidikan Jasmani  Olahraga dan Kesehatan             Tahun Pelajaran                :     2013/ 2014

STANDAR KOMPETENSI
KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR
KRITERIA
PENENTUAN KKM
KKM dalam Aspek
KKM %
Kompleksitas
Daya Dukung
Intake siswa
Permainan & Olahraga
Pengembangan
Uji diri/ Senam
Ritmik
Akuatik
6.                Mempraktikkan gerak dasar kedalam aktivitas jasmani dan nilai yang terkandung di dalamnya









6.1             Mempraktikkan gerak dasar jalan, lari dan lompat ke berbagai arah dengan berbagai pola dalam permainan sederhana, serta nilai kerjasama, kejujuran, tanggung jawab dan toleransi









-         Berjalan ke berbagai arah dalam kecepatan yang berbeda
-         Berlari ke berbagai arah dalam kecepatan yang berbeda
-         Melakukan meloncat dan melompat









6.2             Mempraktikkan gerak dasar memutar, mengayun, menekuk dalam permainan sederhana, dan nilai kerjasama, toleransi,  kejujuran dan tanggung jawab









-         Melakukan gerakan menekuk
-         Melakukan gerakan meliukkan badan









6.3             Mempraktikkan gerak dasar menangkap obyek berbagai ukuran dalam permainan sederhana , dan kerjasama, toleransi, kejujuran dan tanggung jawab
-       Melempar/ melambungkan bola ke berbagai arah
-       Menangkap bola dari berbagai arah









RATA-RATA









RATA-RATA KESELURUHAN











STANDAR KOMPETENSI
KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR
KRITERIA PENENTUAN KKM
KKM dalam Aspek
KKM %
Kompleksitas
Daya Dukung
Intake siswa
Permainan & Olahraga
Pengembangan
Uji diri / Senam
Ritmik
Akuatik
7.          Membiasakan penampilan sikap tubuh dalam berbagai posisi









7.1       Membiasakan penampilan sikap tubuh dalam posisi diam
-         Melakukan beberapa sikap tubuh dengan benar









7.2       Membiasakan penampilkan sikap tubuh dalam posisi bergerak
-         Berjalan dengan posisi/ sikap tubuh yang benar









 RATA-RATA









 RATA-RATA KESELURUHAN

















STANDAR KOMPETENSI
KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR
KRITERIA PENENTUAN KKM
KKM dalam Aspek
KKM %
Kompleksitas
Daya Dukung
Intake siswa
Permainan & Olahraga
Pengembangan
Uji diri / Senam
Ritmik
Akuatik
8.                Mempraktikkan gerakan senam lantai sederhana dan nilai yang terkandung di dalamnya









8.1             Mempraktikkan gerakan senam lantai sederhana, serta nilai percaya diri dan disiplin









-         Berguling ke depan dan ke belakang









8.2             Mempraktikkan gerak peregangan dan pelemasan dalam kegiatan pemanasan sederhana dengan benar serta nilai disiplin









-         Melakukan beberapa gerakan pemanasan









RATA-RATA









RATA-RATA KESELURUHAN











STANDAR KOMPETENSI
KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR
KRITERIA PENENTUAN KKM
KKM dalam Aspek
KKM %
Kompleksitas
Daya Dukung
Intake siswa
Permainan & Olahraga
Pengembangan
Uji diri/Senam
Ritmik
Akuatik
9.          Menampilkan perasaan melalui musik dan gerak berirama serta nilai yang terkandung di dalamnya









9.1    Menampilkan gerak bebas berirama diorientasikan dengan arah mengikuti bunyi-bunyian secara individu, serta nilai estetika









-         Bergerak bebas mengikuti irama
-         Mengayun lengan ke berbagai arah
-         Melakukan gerak lompat sambil berputar ke kanan, kiri depan belakang









9.2   Menampilkan gerak bebas berirama diorientasikan dengan arah menggunakan bunyi-bunyian secara ber-pasangan/ kelompok kecil, serta nilai estetika









-         Kerja sama dalam kelompok









 RATA-RATA









 RATA-RATA KESELURUHAN











STANDAR KOMPETENSI
KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR
KRITERIA PENENTUAN KKM
KKM dalam Aspek
KKM %
Kompleksitas
Daya Dukung
Intake siswa
Permainan & Olahraga
Pengembangan
Uji diri/Senam
Ritmik
Akuatik
10.         Mempraktikkan dasar-dasar pengenalan air dan nilai yang terkandung di dalamnya









10.1      Mempraktikkan aktivitas dasar di air









-         Duduk di pinggir kolam dan melakukan injak-injak air
-         Masuk ke dalam air









10.2      Mempraktikkan berbagai permainan di air dangkal disertai nilai percaya diri, kebersihan, dan disiplin









-         Memperagakan gerak menarik dan membuang napas di air
-         Mendemonstrasi-kan gerak keseimbangan dalam air
-         Mengikuti peraturan









 RATA-RATA









 RATA-RATA KESELURUHAN













STANDAR KOMPETENSI
KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR
KRITERIA PENENTUAN KKM
KKM dalam Aspek
KKM %
Kompleksitas
Daya Dukung
Daya Dukung
Permainan & Olahraga
Pengembangan
Uji diri / Senam
Ritmik
Akuatik
11.       Mempraktikkan pengenalan lingkungan sekolah melalui aktivitas jasmani dan nilai yang terkandung di dalamnya









11.1     Mempraktikkan pengenalan lingkungan sekolah secara beregu, dan nilai disiplin, kerjasama, dan kebersihan lingkungan









-         Melakukan pencegahan lingkungan menggunakan gerak dasar lokomotor
-         Bekerja sama selama aktivitas









11.2     Mempraktikkan berbagai aktivitas jasmani yang menyenangkan di lingkungan sekolah, dan nilai disiplin, kerja sama dan pola hidup sehat









-         Mempraktikkan pemanfaatan makanan dan minuman yang baik









 RATA-RATA


 RATA-RATA KESELURUHAN



STANDAR KOMPETENSI
KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR
KRITERIA PENENTUAN KKM
KKM dalam Aspek
KKM
%
Kompleksitas
Daya Dukung
Intake siswa
Permainan & Olahraga
Pengembangan
Uji diri / Senam
Ritmik
Akuatik
12.        Menerapkan budaya hidup sehat









12.1     Menjaga kebersihan gigi dan mulut









-         Menjaga kebersihan gigi dan mulut









12.2     Mengenal makanan sehat









-         Menyebutkan makanan sehat









 RATA-RATA









 RATA-RATA KESELURUHAN













Mengetahui,
Kepala Sekolah



RUSLI BACO, S.Pd.I
NIP: 198301052005011003


Guru Bidang Study



DARLIN SAHIBU
           NIP:








PERHITUNGAN KRITERIA KETUNTASAN MINIMUM


             Nama Sekolah                   :     MIS Sakita                                                                                                                                                                                     Kelas/semester                 :                                           2 (Dua ) / 1 (satu)
             Mata Pelajaran                   :     Pendidikan Jasmani  Olahraga dan Kesehatan                                                                                                                       Tahun Pelajaran                :                                           2013/ 2014


STANDAR KOMPETENSI
KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR
KRITERIA PENENTUAN KKM
KKM dalam Aspek
KKM %
Kompleksitas
Daya Dukung
Intake siswa
Permainan & Olahraga
Pengembangan
Uji diri / Senam
Ritmik
Akuatik
1.          Mempraktikkan variasi gerak dasar melalui permainan dan aktivitas jasmani, dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.









1.1       Mempraktikkan gerak dasar jalan, lari, lompat yang bervariasi dalam permainan yang menyenangkan dan nilai kerjasama, toleransi, kejujuran, tanggung jawab, menghargai lawan dan menghargai diri sendiri.









-         Melakukan gerak dasar jalan.
-         Melakukan gerak dasar lari.
-         Melakukan gerak dasar lompat.









1.2       Mempraktikkan gerak dasar memutar, mengayun, menekuk lutut dalam berbagai variasi permainan sederhana serta nilai kerjasama, toleransi, kejujuran tanggung jawab, menghargai lawan dan memahami diri sendiri.









-         Melakukan gerak dasar memutar.
-         Melakukan gerak dasar mengayun.
-         Melakukan gerak dasar menekuk lutut.









1.3       Mempraktikkan gerak dasar melempar, menangkap, menendang dan menggiring bola ke berbagai arah dalam permainan sederhana serta nilai kerjasama, toleransi, kejujuran, tanggung jawab, menghargai lawan dan memahami diri sendiri.             
-         Mempraktekkan gerak dasar melempar.
-         Mempraktekkan gerak dasar menangkap.
-         Mempraktekkan gerak dasar menendang.
-         Mempraktekkan gerak menggiring bola.









 RATA-RATA









 RATA-RATA KESELURUHAN











STANDAR KOMPETENSI
KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR
KRITERIA PENENTUAN KKM
KKM dalam Aspek
KKM %
Kompleksitas
Daya Dukung
Intake siswa
Permainan & Olahraga
Pengembangan
Uji diri/ Senam
Ritmik
Akuatik
2.      Mempraktikkan latihan dasar kebugaran jasmani dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.









2.1   Mempraktikkan satu jenis bentuk latihan untuk meningkatkan kekuatan otot lengan dan tungkai dengan mengikuti aturan.









-         Melakukan latihan otot lengan.
-         Melakukan latihan tungkai.









2.2     Mempraktikkan berbagai aktivitas untuk melatih keseimbangan statis dan dinamis, serta nilai disiplin dan estetika.









-         Melakukan gerakan keseimbangan statis dan dinamis.









2.3     Membiasakan bergerak dengan benar.
-         Mempraktekkan cara bergerak yang benar.









 RATA-RATA









 RATA-RATA KESELURUHAN










STANDAR KOMPETENSI
KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR
KRITERIA PENENTUAN KKM
KKM dalam Aspek
KKM %
Kompleksitas
Daya Dukung
Intake siswa
Permainan & Olahraga
Pengembangan
Uji diri/Senam
Ritmik
Akuatik
3.          Mempraktikkan senam ketangkasan dasar dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.









3.1       Mempraktikkan senam ketangkasan sederhana tanpa menggunakan alat: melompat dan meloncat dengan isyarat ke berbagai arah.









-         Melakukan senam ketangkasan tanpa alat seder-hana.









3.2       Mempraktikkan senam ketangkasan dengan menggunakan alat sederhana dengan percaya diri.









-         Melakukan senam kerangkasan dengan menggunakan alat.









 RATA-RATA









 RATA-RATA KESELURUHAN










STANDAR KOMPETENSI
KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR
KRITERIA PENENTUAN KKM
KKM dalam Aspek
KKM %
Kompleksitas
Daya Dukung
Intake siswa
Permainan & Olahraga
Pengembangan
Uji diri/Senam
Ritmik
Akuatik
4         Mempraktikkan keterampilan dasar ritmik diorientasikan dengan arah dan ruang dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya









4.1     Mempraktikkan gerak ritmik ke depan, belakang ataupun samping secara berpasangan dengan diiringi musik, dan nilai kerja sama.









-         Melakukan gerakan ritmik dengan musik.









4.2     Mempraktikkan gerak ritmik diorientasikan dengan ruang secara beregu tanpa menggunakan musik, serta nilai disiplin dan kerja sama.









-         Melakukan gerakan ritmik tanpa menggunakan musik.









 RATA-RATA









 RATA-RATA KESELURUHAN










STANDAR KOMPETENSI
KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR
KRITERIA PENENTUAN KKM
KKM dalam Aspek
KKM %
Kompleksitas
Daya Dukung
Intake siswa
Permainan & Olahraga
Pengembangan
Uji diri / Senam
Ritmik
Akuatik
5.          Menerapkan budaya hidup sehat









5.1     Menjaga kebersihan rambut, hidung dan telinga









-         Kebersihan rambut, hidung, dan telinga









5.2     Memilih makanan bergizi









-         Makanan empat sehat lima sempurna









 RATA-RATA









 RATA-RATA KESELURUHAN










Mengetahui,
Kepala Sekolah


RUSLI BACO, S.Pd.I
NIP: 198301052005011003


Guru Bidang Study


DARLIN SAHIBU
           NIP:

PERHITUNGAN KRITERIA KETUNTASAN MINIMUM


             Nama Sekolah                   :     MIS Sakita                                       Kelas/semester                 :                                           2 (Dua ) / 2(Dua)
             Mata Pelajaran                   :     Pendidikan Jasmani  Olahraga dan Kesehatan             Tahun Pelajaran                :     2013/ 2014

STANDAR KOMPETENSI
KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR
KRITERIA PENENTUAN KKM
KKM dalam Aspek
KKM %
Kompleksitas
Daya Dukung
Intake siswa
Permainan & Olahraga
Pengembangan
Uji diri/Senam
Ritmik
Akuatik
6         Mempraktikkan gerak dasar kebugaran jasmani dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.









6.1     Mempraktikkan latihan dasar untuk meningkatkan kekuatan otot dada, otot punggung, dengan mengikuti aturan.









-         Melakukan latihan dasar untuk meningkatkan kekuatan otot dada.
-         Melakukan latihan dasar untuk meningkatkan otot punggung.









6.2     Mempraktikkan latihan dasar untuk melatih kelenturan persendian anggota badan bagian atas dengan mengikuti aturan.









-         Mempraktekkan latihan dasar kelenturan per-sendian anggota badan bagian atas (togok)









 RATA-RATA









 RATA-RATA KESELURUHAN













STANDAR KOMPETENSI
KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR
KRITERIA PENENTUAN KKM
KKM dalam Aspek
KKM %
Kompleksitas
Daya Dukung
Intake siswa
Permainan & Olahraga
Pengembangan
Uji diri/Senam
Ritmik
Akuatik
7         Mempraktikkan senam ketangkasan sederhana dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya









7.1     Mempraktikkan dua bentuk senam ketangkasan melompat dan berputar 90 derajat saat di udara, melompati benda sesuai dengan kemampuan serta memperhatikan faktor keselamatan.









-         Melakukan gerakan melompat berputar 90 derajat dan melompati benda.









7.2     Mempraktikkan rangkaian gerak senam ketangkasan sederhana: berjalan dan berguling ke depan, memindahkan berat tubuh dari satu titik ke titik yang lain dengan kontrol yang baik.









-         Mempraktikkan gerakan senam ketangkasan, berjalan dan berguling ke depan.









 RATA-RATA









 RATA-RATA KESELURUHAN





























STANDAR KOMPETENSI
KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR
KRITERIA PENENTUAN KKM
KKM dalam Aspek
KKM %
Kompleksitas
Daya Dukung
Intake siswa
Permainan & Olahraga
Pengembangan
Uji diri/Senam
Ritmik
Akuatik
8         Mempraktikkan keterampilan dasar ritmik dan diorientasikan dengan arah dan ruang dengan menggunakan atau tanpa musik memiliki pengetahuan dan nilai-nilai terkandung di dalamnya.









8.1     Mempraktikkan keterampilan dasar gerak ritmik berorientasi pada arah dan ruang secara berpasangan menggunakan atau tanpa musik serta nilai kerjasama, dan disiplin.









-      Melakukan keterampilan gerak dasar ritmik secara berpasangan dengan berorientasi pada arah dan ruang menggunakan atau tanpa musik.









8.2     Mempraktikkan keterampilan dasar gerak ritmik berorientasi pada arah dan ruang secara beregu menggunakan atau tanpa musik serta nilai kerjasama dan disiplin.









-      Melakukan keterampilan gerak dasar ritmik secara berpasangan dengan berorientasi pada arah dan ruang menggunakan atau tanpa musik.









 RATA-RATA









 RATA-RATA KESELURUHAN











STANDAR KOMPETENSI
KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR
KRITERIA PENENTUAN KKM
KKM dalam Aspek
KKM %
Kompleksitas
Daya Dukung
Intake siswa
Permainan & Olahraga
Pengembangan
Uji diri/Senam
Ritmik
Akuatik
9         Mempraktikkan gerak dasar renang dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya *)









9.1     Mempraktikkan gerak lengan dan tungkai untuk mengangkat tubuh di dalam air.









-         Mempraktekkan gerak lengan dan tungkai untuk mengangkat tubuh di dalam air.









9.2     Mempraktikkan keseimbangan tubuh dan penyelamatan diri di air serta memperhatikan faktor keselamatan diri dan orang lain, serta nilai kebersihan.









-         Melakukan keseimbangan tubuh dalam air.









9.3     Mempraktikkan gerak dasar renang: mengapung, menenggelamkan diri di dalam air, dan bernapas, serta nilai disiplin.









-         Mempraktekkan gerak dasar renang.









 RATA-RATA









 RATA-RATA KESELURUHAN















STANDAR KOMPETENSI
KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR
KRITERIA PENENTUAN KKM
KKM dalam Aspek
KKM %
Kompleksitas
Daya Dukung
Intake siswa
Permainan & Olahraga
Pengembangan
Uji diri/ Senam
Ritmik
Akuatik
10        Mempraktikkan kegiatan jasmani di lingkungan sekitar sekolah, dan   nilai-nilai yang terkandung di dalamnya **)









10.1    Mempraktikkan berbagai aktivitas fisik dilingkungan sekolah dan nilai kebersihan, kesehatan dan keselamatan.









-         Melakukan aktivitas fisik di lingkungan sekolah.









10.2    Mengikuti rambu-rambu perjalanan di lingkungan sekolah secara beregu dan memperhatikan faktor keselamatan, kerjasama dan disiplin.









-         Melakukan perjalanan di lingkungan sekolah.